Budaya
Indonesia
Apa
yang terlintas dalam benak anda? Batik? Tari-tarian? Tradisi khas? Atau cara
pandang dalam kehidupan sehari-hari? Saya yakin jawaban yang diperoleh akan
beragam dan tergantung situasi, sebagaimana kondisi sekarang yang serba relatif
dimana semua jawaban memuat nilai kebenarannya masing-masing. Jadi tidak ada
betul maupun salah dalam kondisi ini.
Budaya
Indonesia menurut saya pribadi sangat beragam. Dengan sekitar ratusan suku
bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke ini saja sudah mencerminkan
betapa warna-warninya negeri ini. Setiap suku bangsa mempunyai aspek budaya
yang di satu sisi memiliki banyak persamaan, namun disisi lain perbedaannyapun
sangat mencolok. Ini semua adalah kekuatan. Kekuatan yang membedakan bangsa
kita dengan bangsa-bangsa lainnya didunia ini. Keragaman budaya yang bila
diperkuat akan menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang besar.
Sejak
awal milenium, kita sudah akrab dengan apa yang dinamakan dengan Globalisasi.
Suatu proses dimana semuanya dapat dijangkau dengan mudah seiring kian
canggihnya teknologi. Dari teknologi transportasi hingga informasi. Dengan
sarana telekomunikasi yang semakin canggih, kita dapat menjangkau dan
berhubungan dengan siapapun di kolong jagad manapun tanpa harus meninggalkan
tempat duduk, ataupun mengeluarkan biaya mahal untuk bepergian. Teknologi
internet bergandengan dengan gadget makin membabat jarak. Kita dapat
berhubungan dengan teman di Amerika misalnya, dengan cepat dan murah berkat
internet. Nah, makin canggihnya teknologi ini membawa dampak kian cepatnya
suatu pengaruh budaya menyebar.
Persebaran
budaya ini terjadi jauh lebih cepat dibanding masa lalu. Jejaring sosial
seperti facebook, twitter, blog, youtube dan lainnya menjelma jadi alat penyebarannya.
Cukup dengan klik, maka seluruh dunia langsung dapat mengaksesnya. Paket-paket
budaya seperti mode (fashion), musik, dance (tarian), makanan (food) dan film
semuanya dapat masuk tanpa dapat dicegah, serta dengan mudah diadopsi oleh
bangsa kita sebagai bagian dari budaya populer. Seperti contoh, tahun lalu kita
dijangkiti demam Gangnam style dan kini Harlem Shake juga banyak
ditiru. Kemudian trend mode ala Korea dan Jepangpun dengan gampangnya kita
adopsi, bahkan kadang tanpa seleksi atau modifikasi terlebih dahulu, sehingga
menjadikan kita nampak serupa dengan pencetusnya.
Memang
negeri kita berada di persimpangan berbagai budaya. Namun canggihnya teknologi
membuat penetrasi budaya itu jauh lebih cepat, bahkan kadang tanpa kita sadari
sekalipun. Gaya hidup yang meniru bangsa luar juga makin ramai diadopsi oleh
sebagian bangsa kita sesuai dengan trend yang sedang berlaku. Contoh lainnya
adalah trend boyband dan girlband Korea atau Jepang yang fenomenal disini
sebagai dampak interaksi dan penetrasi budaya pop Korea dan Jepang, sehingga
muncullah boyband dan girlband setipe belakangan ini. Setiap sesuatu pasti ada
sisi baik dan buruknya. Dampak buruknya sekali lagi, orang Indonesia nampak
sama saja dengan lainnya bahkan kehilangan ciri khasnya. Globalisasi menjadikan
orang sedunia nampak ‘sama’, sehingga sulit dicari keunikannya.
Di
bagian permulaan tadi saya sudah menyebutkan bahwa budaya Indonesia itu sangat
unik. Dari ratusan budaya yang tersebar di negeri ini saja, kita seharusnya
dapat mensyukuri karena semuanya ada dalam satu rumah, yakni rumah besar
Republik Indonesia. Sila ketiga Pancasila yakni Persatuan Indonesia masih
relevan untuk menunjukkan warna itu yang disambung pula dengan semboyan negara
kita yakni Bhinneka Tunggal Ika. Namun sayangnya, ramai dikalangan bangsa kita
sendiri sudah mengabaikan budaya khas Indonesia itu, minimal budaya
masing-masing, karena merasa bahwa budaya dari luar itu lebih baik, lebih
canggih dan lebih global dibanding milik kita sendiri.
Mengambil
contoh Korea dan Jepang, mengapa budaya mereka begitu mendunia? Tentu ini
pertanyaan yang menggayut dibenak sebagian kita. Budaya mereka begitu eksis
termasuk K-Pop dan J-Popnya, itu semua karena dukungan mutlak dari bangsa
mereka sendiri dan yang paling berperan besar adalah pemerintahnya. Pemerintah
kedua negara ini begitu gencar mempromosikan budayanya sehingga seluruh
duniapun mengenalnya, ditunjang dengan posisi mereka sebagai raksasa ekonomi
Asia.
Contoh
budaya yang sukses lainnya adalah India. Siapa sih yang tidak kenal dengan
Bollywood? Film-filmnya yang begitu fenomenal plus lagu dan tariannya yang khas
juga sangat mendunia. Bahkan masyarakat mereka sendiripun mayoritas masih setia
dengan busana tradisionalnya, meskipun era sudah makin modern. Mengapa bisa?
Pengaruh Swadesh dari Gandhi juga menjadi motivasi bagi mereka untuk
mempertahankan ciri khasnya, bahkan bila mereka ada di luar negerinya
sekalipun. Sari, Salwar Kameez banyak dipakai bahkan di Inggris sekalipun.
Pemerintah Indiapun punya peran dalam mempromosikan budayanya meskipun kondisi
ekonomi negeri itu tidak seperti Jepang dan Korea yang lebih mapan.
Lantas
bagaimana dengan Indonesia? Sebenarnya kita bisa melakukannya dengan berbagai
cara. Budaya tradisional kita sangat eksotis, bahkan masyarakat mancanegara sendiri
begitu terpesona dengan beragamnya kebudayaan kita. Namun sayangnya penghargaan
akan budaya sendiri inilah yang masih belum kita miliki. Kita masih banyak
meniru dibandingkan menciptakan. Apa yang seharusnya terjadi perlu dijadikan
pelajaran bagi kita bersama, bagaimana mengukuhkan budaya bangsa kita sesuai
dengan falsafah yang kita anut, yakni Pancasila. Ditengah kebhinnekaan itu
tentu kita bisa mengambil sisi persamaan yang bisa dijadikan sebagai tatanan
dasar budaya Indonesia secara global.
Penetrasi
budaya dari mana-mana tentu tidak dapat kita tolak maupun hindari, karena
sebagai bagian dari globalisasi, kita tentu suka tak suka akan ikut didalamnya.
Tetapi sebenarnya globalisasi ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana untuk
lebih mengukuhkan entitas kita sebagai bangsa Indonesia dalam percaturan dunia.
Apa saja yang dapat kita lakukan? Tentunya sangat banyak. Sebagai contoh dengan
ditetapkannya batik sebagai warisan dunia oleh UNESCO sejak tahun 2010,
tentunya kita berkewajiban untuk memperkenalkannya dengan berbagai cara. Sudah
banyak variasi moderen dari batik yang telah kita lihat belakangan ini, bahkan
telah menjadi bagian dari fashion yang telah mengglobal. Jadi, biarpun
kelihatan sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia, namun ciri keindonesiaan itu
harus tetap menonjol.
Selain
itu dalam musik, unsur budaya lokal dapat kita masukkan dengan dikemas cantik
sehingga dapat diterima oleh semua kalangan, khususnya masyarakat mancanegara.
Kebaya ala Indonesiapun sudah kian mengglobal, disesuaikan dengan selera
masyarakat, dari yang semula terkesan kuno menjadi elegan dan mampu bersaing
dengan busana-busana ala mancanegara yang sudah terlebih dahulu mendunia.
Namun
dibalik semua itu, yang perlu dipupuk adalah rasa bangga dengan apa yang kita
punya. Memang benar kata pepatah, rumput tetangga selalu nampak lebih hijau
dari rumput sendiri. Rasa bangga akan budaya kita masih sangat kurang, dan ini
menjadi tanggungjawab semua pihak termasuk diantaranya tataran tertinggi, yakni
pemerintah. Dalam skala kecil, kita dapat memulainya dengan memperkenalkan pada
anak-anak kita tentang keragaman budaya asli Indonesia. Jika perlu bukan
sekedar pakaian adat dan seni tradisinya, melainkan juga karakter positif
khas dari setiap suku yang ada di Indonesia. Pengenalan karakter setiap
kelompok suku di Indonesia ini diharapkan dapat menimbulkan rasa saling
pengertian dan tenggang rasa diantara kita, dan ini selaras dengan falsafah
Pancasila khususnya sila ketiga. Cross cultural understanding alias Pemahaman
Lintas Budaya, bukan sekedar memahami budaya negara atau bangsa lain, namun
seharusnya budaya bangsa sendiripun perlu diajarkan agar tidak terjadi salah
paham ataupun prasangka yang jika terus terjadi akan menimbulkan perpecahan.
Konflik
horizontal dan vertikal sudah kerap terjadi, dan sangat bertentangan dengan
azas Pancasila. Salah satu penyebabnya antara lain kurangnya rasa saling
memahami dan bertoleransi, dimana saat ini kesemuanya itu bagaikan barang yang
mahal dan sulit diterapkan.
Sekali
lagi, dalam kurikulum sekolah sudah waktunya juga lebih mengajarkan tentang
pemahaman budaya dalam negeri sendiri disamping yang luar negeri. Saatnya
kembali juga kita belajar untuk mendalami budaya masing-masing. Minimal dengan
teman terdekat atau lingkungan sekitar dimana kita tinggal, keunikan demi
keunikan itu yang perlu kita jaga dengan tidak menutup diri pada perubahan yang
sifatnya membawa kebaikan. Mempelajari budaya daerah lain di Indonesia juga
sepatutnya diberikan kepada orang-orang yang hendak berpindah ke daerah-daerah
lain, agar setidaknya mereka lebih siap bila menghadapi perbedaan atau bahkan
gegar budaya saat mereka merantau. Hal ini penting untuk meminimalkan benturan
antar kelompok yang selama ini sering terjadi.
Menurut
saya pribadi, pengajaran budaya tiap daerah seperti yang saya sebutkan di atas
sangat penting, disamping perlu ditanamkannya kembali nilai-nilai luhur
Pancasila yang melemah seiring perubahan zaman. Dimulai dari anak-anak kita,
karena merekalah yang nanti menjadi penerus kelangsungan hidup bangsa kita.
Saling
mengerti dan bertoleransi serta bangga dengan budayanya itulah yang menjadi
senjata kita sebagai bangsa Indonesia untuk berkiprah di masyarakat global.
Bila saling memahami itu dapat dikuatkan, maka yang dapat dilakukan selanjutnya
adalah menonjolkan ciri khas budaya Indonesia yang ramah, murah senyum, saling
bergotong royong dan penuh sopan santun kepada masyarakat dunia. Banyak cara
untuk mempromosikan budaya kita, yang tentunya harus kuat dari titik terdasar.
Boleh global, namun tetap membumi sebagai bangsa Indonesia. Biarpun kita tidak
di Indonesia, namun kebanggaan itu harus selalu ada.
Saling
memahami, menghormati dan memiliki budaya kita adalah kunci bagi persatuan
Indonesia. Mari kita bersama mewujudkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar