Selasa, 27 Mei 2014
Senin, 26 Mei 2014
MAKALAH Metode&Pendekatan Pendidikan Agama Islam
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
kasih‐Nya, memberikan kemampuan dan
kemudahan bagi penulis dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat
selesai.
Alhamdulillah berkat rahmat Allah
SWT, Makalah tentang “Metode dan pendekatan dalam pendidikan Islam” ini dapat
hadir di hadapan para pembaca yang budiman. Secara khusus kami ucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberi masukan yang sangat berharga
baik dalam tahap rancangan maupun hasilnya nanti.
Terima kasih yang mendalam juga kami
ucapkan kepada rekan-rekan yang telah membantu kelompok kami dalam
menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya
tegur sapa, kritik dan saran tetap penulis harapkan dari semua pihak agar yang
slah dapat diperbaiki, yang menyimpang dapat diluruskan dan yang kurang dapat
disempurnakan. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Penulis
DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR……………………………………………………………….
DAFTAR ISI …………………………………………………………………..…....
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …..………………………..………….…………………………
1.2 Rumusan Masalah
……………………………………………………………….
1.3 Tujuan ………….……………………………………………..…………………
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
dari metode dan pendekatan………………………………………
2.2 Nilai-nilai
pendidikan Islam dalam Al Qur’an dan Al Hadits…………………...
2.3 Dasar-dasar metode pendidikan Islam
…………………………………………
2.4 Prinsip-prinsip
metode pendidikan Islam ……………………………………….
2.5 Macam-macam
metode pendidikan Islam menurut pakar pendidikan dan menurut sumber yang
terdapat dalam al Qur’an dan Al hadits …………………………
BAB III KESIMPULAN DAN
SARAN
3.1. Kesimpulan…………………………………….…………………………….....
3.2. Saran.…………….………………………………… ………………………….
REFERENSI ………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Islam
merupakan agama yang terakhir sebagai penutup semua agama yang telah ada, islam
merupakan agama rahmatal lil a’lamin untuk semua umat.Islam itu dibawakan oleh
nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu dari Allah. Untuk mengetahui islam lebih
mendalam mak muncullah ilmu yang dinamakan pendidikan Islam akan tetapi
pendidikan Islam itu sendiri merupakan bidang kajian yang cukup lama. Ia telah
ada bersama dengan adanya agama islam maka dari itu pendidikan Islam
menimbulkan berbagai permasalahn yang umum salah satunya tentang bagaimana
pendekatan dan metodologi yang digunakan dalam pendidikan Islam.
Seiring
dinamika dan perkembangan zaman, kesempatan untuk mempelajari pendidikan Islam
dapat melalui segala hal, berkaitan dengan persoalan tentang mempelajari
pendidikan Islam, islam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk
menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk mempelajarinya, namun jangan
sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu ajaran Allah
SWT.
Dalam
pelakasaan pendidikan Islam sangat dibutuhkan adanya metode yang tepat,
efektif, dan efisien dengan tujuan untuk menghantarkan tercapainya suatu tujuan
pendidikan yang telah direncanakan dan dicita-citakan. Materi yang baik dan
benar saja tidak akan tercover dengan baik jika tidak diimbangi dengan metode
yang baik pula. Oleh karena itu, kebaikan suatu materi yang akan disampaikan
dalam ranah pendidikan harus ditopang dengan adanya metode pendidikan.
Metode
Pembelajaran merupakan cara atau tekhnik pengkajian bahan pelajaran yang akan
digunakan oleh guna saat pengkajian bahan pelajaran, baik secara individual
maupun kelompok. Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu proses,
perbuatan dan cara mendekati peserta didik dan mempermudah pelaksanaan
pendidikan Islam itu sendiri. Dalam proses pembelajaran yang berlangsung pasti
akan didukung oleh metode dan pendekatan pembelajaran, karena dalam
pembelajaran, apabila sudah menggunakan kedua sistem diatas maka
komponen-komponen pendidikan akan berjalan dengan baik, khususnya pendidikan
Islam baik secara efektif dan efisien.
Dalam
pembelajaran metode dan pendekatan tidak bisa dipisahkan karena kedua unsur ini
merupakan alat dan cara yang digunakan untuk menunjang kelancaran pendidikan
Seperti yang
kita ketahui saat ini, peserta didik seakan jenuh dan putus asa dengan tumpukan
tugas dari beberapa mata pelajaran atau mata kuliah yang dijejalkan oleh
lembaga pendidikan. Perasaan ini tentu saja tidak muncul begitu saja, namun
karena ada sederetan faktor lain yang ikut berperan, seperti keterpurukan
moral. Materi yang ada dianggap paket dari langit sehingga tidak perlu
disentuh dengan tangan kreatif dan inovatif dari para pendidik. Materi dan
metode seakan “jimat” yang dekeramatkan sehingga tidak pernah diubah dan
dikembangkan.
Metode
pembelajaran yang dipakai selama ini lebih banyak menggunakan model ceramah
tanpa sentuhan kreasi dan motivasi yang membuat peserta didik dapat bangkit
untuk melompat mencari potensi dan mengembangkannya. Metode pembelajaran yang
monoton ini tentu saja menjadikan peserta didik tertekan dan seakan ingin lari
dari kelasnya.
Oleh
karena itu, didalam makalah ini akan membahas secara lebih umum mengenai
permasalahan metode dan pendekatan dalam pendidikan islam.
1.2. Rumusan Masalah
Untuk
mempermudah penulisan makalah ini, maka penulis akan merumuskan masalah dalam
rumusan sebagai berkut:
1. Apa
pengertian dari metode dan pendekatan?
2. Apakah
sajakah nilai-nilai pendidikan Islam dalam Al Qur’an dan Al Hadits?
3. Apa
sajakah dasar-dasar metode pendidikan islam?
4. Apa
sajakah prinsip-prinsip metode pendidikan islam?
5. Apa
sajakah macam-macam metode pendidikan
Islam menurut pakar pendidikan dan menurut sumber yang terdapat dalam al Qur’an
dan Al hadits?
1.3.Tujuan
Dilatar
belakangi oleh alasan penulisan judul tersebut maka tujuan penulis dari risalah
ini adalah :
1. Untuk
mengetahui arti dari metode dan pendekatan.
2. Untuk
mengetahui apa yang di maksud dengan metode pendidikan islam dalam Al Qur’an
dan Al Hadits.
3. Untuk
mengetahui apa saja yang termasuk dasar-dasar metode yang digunakan dalam
pendidikan islam.
4. Untuk
mengetahui apa saja yang termasuk prinsip-prinsip metode yang digunakan dalam
pendidikan islam.
5. Untuk
mengetahui macam-macam metode pendidikan islam berdasarkan pendapat para pakar
pendidikan serta sumber yang terdapat di
dalam Al Qur’an dan Al Hadits.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian dari
metode dan pendekatan
A.
Pengertian
dari metode dan pendekatan
Kata
metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode berasal dari
dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta
berarti “melalui dan hodos berrti “jalan” atau “cara”. Dalam Bahasa Arab
metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah
strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan
dalam bahasa Inggris metode disebut method yang berarti cara dalam bahasa
Indonesia.
Sedangkan
menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan definisi yang beragam
tentang metode, terlebih jika metode itu sudah disandingkan dengan kata pendidikan
atau pengajaran diantaranya:
1. Winarno Surakhmad mendefinisikan
bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai
tujuan.
2. Abu Ahmadi mendefinisikan bahwa
metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan
oleh seorang guru atau instruktur
3. Rama yulis mendefinisikan bahwa
metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan
dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan
demikian metode mengajar merupaka alat untuk menciptakan proses pembelajaran.
4. Omar Mohammad mendefinisikan bahwa metode
mengajar bermakna segala kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam
rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, cirri-ciri
perkembangan muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong
murid-muridnya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang
dikehendaki pada tingkah laku mereka.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai
pengertian metode di atas, beberapa hal yang harus ada dalam metode adalah:
1. Adanya tujuan yang hendak dicapai
2. Adanya aktivitas untuk mencapai
tujuan
3. Aktivitas itu terjadi saat proses
pembelaran berlangsung
4. Adanya perubahan tingkah laku
setelah aktivitas itu dilakukan.
Ada istilah lain yang dalam pendidikan yang mengandung makna
berdekatan dengan metode, yaitu pendekatan dan teknik/strategi. Pendekatan
merupakan pandangan falsafi terhadap subject matter yang harus diajarkan dapat
juga diartikan sebagai pedoman mengajar yang bersifat realistis/konseptual. Sedangkan
teknik/strategi adalah siasat atau cara penyajian yang dikuasai pendidik dalam
mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas,
agar bahan pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik.
B.
Macam-macam Metode dan Pendekatan
dalam Pendidikan Islam
1. Macam-macam metode
Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab AlQuran
yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat
universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang
prinsip dasarnya dari Al Qur’an dan Hadits. Diantara metode- metode
tersebut adalah:
a.
Metode
Ceramah
Metode
ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui
penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. (Q.S. Yunus : 23)
b. Metode Tanya jawab
Metode
Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa
pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau
bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits
Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan.
c.
Metode
diskusi
Metode
diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana
pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan
menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau
menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah.
Abdurrahman Anahlawi menyebut metode ini dengan sebutan hiwar (dialog). Prinsip
dasar metode ini terdapat dalam Al Qur’an Surat Assafat.
d.
Metode
Pemberian Tugas
Metode
pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan
tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa
oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya.
Prinsip
dasar metode ini terdapat dalam Al Qur’an yang berbunyi :
يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
وَلاَتَمْنُن تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
Artinya
:
- Hai orang yang berkemul (berselimut),
- Bangunlah, lalu berilah peringatan!
- Dan Tuhanmu agungkanlah!
- Dan pakaianmu bersihkanlah,
- Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
- Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
- Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
e.
Metode
Demontrasi
Metode
demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses
sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya. (al-Bukhari,
I: 226)
f.
Metode
eksperimen
Suatu
cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan, dan
setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap
murid, sedangkan guru memperhatikan yang
dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan. (al-Bukhari,I: 129)
g.
Metode
Amsal/perumpamaan
Yaitu
cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau
perumpamaan.
Prinsip
metode ini terdapat dalam Al Qur’an
مَثَلُهُمْ
كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ
اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ
Perumpamaan
mereka adalah seperti orang yang menyalakan api Maka setelah api itu
menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan
membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Q.S. Albaqarah: 17)
h.
Metode
Targhib dan Tarhib
Yaitu
cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan
ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik
melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. (al-Bukhari,t.t,I: 49)
i.
Metode
pengulangan (tikror)
Yaitu
cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang
materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang
disampaikan. (As-Sijistani, t.t, II: 716).
C.
Macam-macam pendekatan dalam
pendidikan Islam
Menurut Ramayulis pendekatan pandangan falsafi terhadap
subject matter yang harus diajarkan dan selanjutnya melahirkan metode mengajar.
Menurutnya setidaknya ada enam pendekatan yang dapat digunakan pendidikan
Islam dalam pelaksanaan proses
pembelajaran, yaitu:
1.
Pendekatan
pengalaman. Yaitu
pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman
nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan
untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individual maupun kelompok.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.
2.
Pendekatan
pembiasaan.
Pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa
direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja yang kadang kala tanpa dipikirkan.
Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada
peserta didik terbiasa mengamalkan ajarannya.
3.
Pendekatan
emosional.
Pendekatan emosional adalah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta
didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana
yang buruk.
4.
Pendekatan
Rasional, yaitu
suatu pendekatan mempergunakan rasio dalam memahami dan menerima kebesaran dan
kekuasaan Allah. Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk, bahkan dengan akal yang dimilikinya juga manusia juga
dapat membenarkan dan membuktikan adanya Allah.
5.
Pendekatan
fungsional, yaitu
suatu pendekatan dalam rangka usaha menyampaikan materi agama dengan menekankan
kepada segi kemanfaatan pada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai
dengan tingkat perkembangannya. Ilmu Agama yang dipelajari anak di sekolah
bukanlah hanya sekedar melatih otak tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan
anak, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan social.
6.
Pendekatan
keteladanan.
Pendekatan keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan baik yang berlangsung
melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah,
perilaku pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang mencerminkan akhlak
terpuji, maupun yang tidak langsungmelalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah
ketauladanan.
2.2. Nilai-nilai
pendidikan islam dalam Al Qur’an dan Al Hadits
A.
Pengertian Nilai-nilai Pendidikan Islam
Nilai artinya “sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan”. Maksudnya
“kualitas yang memang membangkitkan respon penghargaan”. “Nilai itu praktis dan
efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara obyektif di dalam
masyarakat”.
Menurut Sidi
Gazalba “nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan
benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut
pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak
dikehendaki”.
Spranger menjelaskan adanya enam
orientasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh manusia dalam kehidupannya.
Enam nilai yang dimaksud adalah “nilai teoretik, nilai ekonomis, nilai estetik,
nilai sosial, nilai politik, dan nilai agama”.
Nilai adalah sesuatu yang bermanfaat dan
berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku. Jadi nilai-nilai pendidikan
Islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam yang
digunakan sebagai dasar manusia untuk
mencapai tujuan hidupnya yaitu mengabdi pada Allah. Nilai-nilai tersebut perlu
ditanamkan pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang tepat
untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.
B. Pemerolehan
Nilai-nilai Pendidikan Islam
Nilai
dapat dipersepsi sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata benda, nilai diwakili
oleh sejumlah kata benda abstrak seperti keadilan, kejujuran, kebaikan, dan
kebenaran. Sedangkan nilai sebagai kata kerja berarti suatu usaha penyadaran
diri yang ditujukan pada pencapaian nilai-nilai yang hendak dimiliki. “Dalam
teori nilai, nilai sebagai kata benda banyak dijelaskan dalam klasifikasi dan
kategorisasi nilai, sedangkan nilai sebagai kata kerja dijelaskan dalam proses
perolehan nilai”.
Pemahaman
tentang perolehan nilai perlu dipahami secara kontekstual berdasarkan sudut
pandang kajiannya dan subyek yang dikaji. “Ketika perolehan nilai dilihat dari sisi moral individu, maka proses
tersebut tidak terpisahkan dari proses kehidupan individu dan kehidupan sosial.
Demikian pula, ketika kesadaran nilai dilihat dari moral beragama, maka hal itu
melibatkan kekuatan ikhtiar manusia dan kebenaran Ilahiyah”.
“Pertama,
nilai ada ketika seseorang mengutamakannya karena kebaikan yang ada padanya.
Dengan kata lain, sesuatu itu bernilai karena berguna bagi hal tertentu atau
bermanfaat untuk tujuan tertentu. Kedua, nilai ada ketika sesuatu itu baik
bukan hanya karena sesuatu itu baik untuk mencapai tujuan tertentu, melainkan
karena sesuatu itu sendiri baik. Dengan kata lain, nilai baik sesuatu itu tidak
tergantung pada selainnya, tetapi lahir dari karakteristik asli yang ada di
dalam dirinya”.
Pandangan
tentang kajian nilai-nilai diatas, maka muncullah dua kategori pemerolehan
nilai. Ada nilai yang diperoleh atau lahir dikarenakan realitas konkret yang
dipahami dengan pikiran, dan ada juga nilai yang diperoleh atas realitas spiritual yaitu kalbu. Kedua nilai ini
disebut dengan nilai insaniyah dan nilai ilahiyah. “Nilai insaniyah yaitu nilai
hidup yang tumbuh dan berkembang dalam dan dari peradaban manusia, sedangkan
nilai ilahiah adalah nilai hidup yang berasal dari ajaran agama”. Maka agama
yang dimaksud disini tak lepas kajiannya dengan agama Islam
Ada dua pembagian besar tentang
bentuk-bentuk nilai. “Pertama, nilai dipandang sebagai konsep, dalam arti
memberi nilai atau timbangan (to value). Kedua, nilai dipandang sebagai proses
penetapan hukum atau penilaian (to evaluate)”. Nilai juga apabila dilihat dari
aspek-aspeknya, terbagi kepada dua yaitu aspek normatif dan operatif. “Dilihat
dari segi normatif, nilai merupakan pertimbangan tentang baik dan buruk, benar
dan salah, haq dan batil, diridai atau dikutuk oleh Allah. Sedangkan dari
perspektif operatif, nilai tersebut mengandung lima pengertian kategorial yang
menjadi prinsip standarisasi perilaku manusia, yaitu wajib atau fardu, sunah
atau mustahab, mubah atau jaiz, makruh atau haram”.
Aspek-aspek pemerolehan nilai tersebut,
apabila dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka takkan lepas dari sumber dan
landasan Islam itu sendiri, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits (landasan nilai
naqli), dikarenakan apa-apa yang terkandung didalam keduanya, lahir dalam
karakteristik yang mengandung nilai yang baik. Al-Qur’an diturunkan dari Dzat
Yang Maha Baik, dan mengandung nilai-nilai keagamaan yang baik. Sedangkan
Al-Hadits merupakan kata-kata, perbuatan, dan penetapan dari utusan-Nya yang
sudah pasti pemberi contoh terhadap hal-hal yang bernilai baik itu juga. Selain
itu akal dan pikiran (landasan nilai aqli) juga merupakan salah satu cara untuk
pemerolehan nilai itu. Karena tujuan berpikir salah satunya yaitu untuk mencari
nilai-nilai ilmu yang baik.
Pandangan hidup yang mendasari seluruh
kegiatan pendidikan Islam ialah pandangan hidup muslim yang merupakan
nilai-nilai luhur yang bersifat universal yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga
pendapat para sahabat dan ulama sebagai tambahan. Hal ini senada dengan
pendapat Ahmad D. Marimba yang menjelaskan “bahwa yang menjadi landasan atau
dasar pendidikan diibaratkan sebagai sebuah bangunan sehingga isi Al-Qur’an dan
Al-Hadits menjadi pondasi, karena menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap
berdirinya pendidikan”.
Oleh karena itu, mengingat suatu
pendidikan adalah proses pendewasaan anak manusia baik intelektual, emosional
maupun spiritual dan akan sangat berpengaruh pada masa depan peserta didik,
negara, bangsa dan agama maka harus dilakukan secara terprogram, sistematis,
terpadu dan integral. Demikian halnya dengan sumber landasan operasionalnya.
Berbicara mengenai pendidikan Islam pasti tidak akan terlepas dari landasan
esensial yaitu Al-Qur’an, Al-Hadits dan akal pikiran.
2.3.Dasar-dasar
metode pendidikan islam
A. Pengertian Dasar Pendidikan Islam
Dasar (Arab, asas; Inggris: foundation;
Prancis: fondement; Latin: fundamentum) secara bahasa,
berarti alas, fundamen, pokok atau pangkal segala sesuatu (pendapat, ajaran,
aturan). Dasar mengandung pengertian sebagai berikut:
(1) sumber dan sebab adanya sesuatu. Umpamanya, alam
rasional adalah dasar alam inderawi. Arinya, alam rasional merupakan sumber dan
sebab adanya alam inderawi.
(2) proposisi paling umum dan makna paling luas yang di jadikan
sumber pengetahuan, ajaran, atau hukum. Umpamanya, dasar induksi adalah prinsif
yang membolehkan pindah dari hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang umum.
Dasar untuk pindah dari ragu kepada yakin adalah kepercayaan kepada Tuhan bahwa
dia tidak mungkin menyesatkan hamba-hamba-Nya.
Dasar mesti ada dalam suatu bangunan. Tanpa dasar, bangunan
itu tidak akan ada. Pada pohon, dasar adalah akarnya. Tanpa akar, pohon itu
mati; dan ketika sudah mati, bukan pohon lagi namanya, melainkan kayu. Maka tak
ada akar, pohon pun tak ada. Kalimat La Ilaha Illa Allah (Arab:
Tidak ada Tuhan selain Allah) yang merupakan espresi terdalam keimanan orang
mungkin di gambarkan oleh Allah SWT.
B. Dasar Metode
Pendidikan Islam
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut
permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik itu sendiri.
Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan
dasar-dasar umummetode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan
merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan
yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode
pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar
agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
1.
Dasar
Agamis,
maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah
berdasarkan pada Agama. Sementara Agama Islam merujuk pada Al Qur’an dan
Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanannya berbagai metode yang digunakan oleh
pendidik hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif dan
efesien yang dilandasi nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits.
2.
Dasar
Biologis, Perkembangan
biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin
dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat
pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam
seorang guru harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
3.
Dasar
Psikologis. Perkembangan
dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar
terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam
kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan
berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan
Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan
dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut
untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab
dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.
4.
Dasar
sosiologis. Saat
pembelanjaran berlangsung ada interaksi antara pesrta didik dengan peserta
didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal
ini maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan
atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak
sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan
mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.
Keempat dasar di atas merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan
Islam agar dalam mencapai tujuan tidak mengunakan metode yang tidak tepat dan
tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi
sosiologis peserta didik.
2.4.
Prinsip-prinsip metode pendidikan islam.
Prinsip berarti asas atau kebenaran yang jadi pokok dasar
orang berfikir, bertindak dan sebagainya. Menurut Dagobert D. Runes yang
dikutip oleh Syamsul Nizar, mengartikan prinsip sebagai kebenaran yang bersifat
universal (universal truth) yang menjadi sifat dari sesuatu. Apabila dikaitkan
dengan pendidikan, maka prinsip pendidikan dapat dikatakan sebagai kebenaran
yang universal sifatnya dan menjadi dasar dalam merumuskan perangkat
pendidikan. Prinsip pendidikan diambil dari dasar pendidikan, baik berupa agama
atau ideologi negara yang dianut. Prinsip pendidikan Islam juga ditegakan di
atas dasar yang sama dan berpangkal dari pandangan Islam secara filosofis
terhadap jagad raya, manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan dan akhlak.
Pandangan Islam terhadap masalah-masalah tersebut, melahirkan berbagai prinsip
dalam pendidikan Islam. Prinsip metode pendidikan islam yaitu:
1.
Prinsip
Integral dan Seimbang
Ø Prinsip Integral
Pendidikan Islam tidak mengenal
adanya pemisahan antara sains dan agama. Keduanya harus terintegrasi secara
harmonis. Dalam ajaran Islam, Allah adalah pencipta alam semesta termasuk
manusia. Allah pula yang menurunkan hukum-hukum untuk mengelola dan melestarikannya.
Hukum-hukum mengenai alam fisik disebut sunnatullah, sedangkan pedoman hidup
dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia yang disebut dinullah yang mencakup
akidah dan syari'ah.
Al-Qur’an merupakan ayat yang
diturunkan Allah (ayat tanziliyah, qur’aniyah). Selain itu, Allah memerintahkan
agar manusia membaca ayat Allah yang berwujud fenomena-fenomena alam (ayat
kauniyah, sunatullah). Hal itu berarti bahwa pendidikan Islam harus
dilaksanakan secara terpadu (integral).
Ø Prinsip Seimbang
Pendidikan Islam selalu
memperhatikan keseimbangan di antara berbagai aspek yang meliputi keseimbangan
antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal, urusan hubungan dengan Allah
dan sesama manusia, hak dan kewajiban.
2.
Prinsip
Bagian dari Proses Rububiyah
Sebagai khalifah, manusia juga
mengemban fungsi rubbubiyah Allah terhadap alam semesta termasuk diri manusia
sendiri. Dengan perimbangan tersebut dapat dikatakan bahwa karakter hakiki
pendidikan Islam pada intinya terletak pada fungsi rubbubiyah Allah secara
praktis dikuasakan atau diwakilkan kepada manusia. Dengan kata lain, pendidikan
Islam tidak lain adalah keseluruhan proses dan fungsi rubbubiyah Allah terhadap
manusia, sejak dari proses penciptaan samspai dewasa dan sempurna.
3.
Prinsip Membentuk Manusia yang Seutuhnya
Pendidikan Islam dalam hal ini
merupakan usaha untuk mengubah kesempurnaan potensi yang dimiliki oleh peserta
didik menjadi kesempurnaan aktual, melalui setiap tahapan hidupnya. Dengan
demikian fungsi pendidikan Islam adalah menjaga keutuhan unsur-unsur individual
peserta didik dan mengoptimalkan potensinya dalam garis keridhaan Allah.
Prinsip ini harus direalisasikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran.
Pendidik harus mengembangkan baik kecerdasan intelektual, emosional maupun
spiritual secara simultan.
4.
Prinsip Selalu Berkaitan dengan
Agama
Pendidikan Islam bukan hanya
mengajarkan ilmu-ilmu sebagai materi, atau keterampilan sebagai kegiatan
jasmani semata, melainkan selalu mengaitkan semuanya itu dengan kerangka
praktek (amaliyah) yang bermuatan nilai dan moral. Jadi, pengajaran agama dalam
Islam tidak selalu dalam pengertian (ilmu agama) formal, tetapi dalam
pengertian esensinya yang bisa saja berada dalam ilmu-ilmu lain yang sering
dikategorikan secara tidak proporsional sebagai ilmu sekuler.
5.
Prinsip
Terbuka
Pendidikan Islam pada dasarnya
bersifat terbuka, demokratis, dan universal. Menurut Jalaludin yang dikutip
oleh Bukhari Umar menjelaskan bahwa keterbukaan pendidikan Islam ditandai
dengan kelenturan untuk mengadopsi unsur-unsur positif dari luar, sesuai dengan
perkembangan dan kebutuhan masyarakatnya, dengan tetap menjaga dasar-dasarnya
yang original (shahih), yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.
6.
Menjaga
Perbedaan Individual
Perbedaan-perbedaan yang dimiliki
manusia melahirkan perbedaan tingkah laku karena setiap orang akan berbuat
sesuai dengan keadaannya masing-masing. Menurut Asy-Syaibani yang dikutip oleh
Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa pendidikan Islam sepanjang sejarahnya
telah memelihara perbedaan individual yang dimilki oleh peserta didik.
7.
Prinsip
Pendidikan Berlangsung Sepanjang Hayat
Islam tidak mengenal batas akhir
dalam menempuh pendidikan. Hal tersebut mengingat tujuan yang ingin dicapai
dalam pendidikan Islam adalah terbentuknya "akhlak al-karimah".
Pembentukan itu membutuhkan waktu yang panjang, yaitu sepanjang hayat manusia.
Selain itu dalam buku Ilmu
Pendidikan Islam yang ditulis Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa yang
menjadi prinsip-prinsip pendidikan Islam itu diantaranya adalah :
1) Prinsip pendidikan Islam merupakan
implikasi dari karakteristik manusia.
2) Prinsip pendidikan Islam adalah
pendidikan integral.
3) Prinsip pendidikan Islam adalah
pendidikan yang seimbang.
4) Prinsip pendidikan Islam adalah
pendidikan universal.
5) Prinsip pendidikan Islam adalah
dinamis.
Tidak hanya itu, prinsip pendidikan
Islam paling tidak mengacu kepada lima Aspek :
1. Selalu mengacu kepada Al-Qur’an dan
Hadits.
2. Selalu mengarah kepada dunia dan
akhirat.
3. Bersifat teoritis dan praktis
Pendidikan Islam tidak cukup hanya menyampaikan teori, karena tujuan materi itu
tidak lain untuk dilaksanakan guna mencapai amal yang tinggi disisi Allah dan
"Uswatun Hasanah" harus menjadi pedoman yang utama di dalam hidupnya.
4. Sesuai dengan potensi yang dimiliki
manusia Setiap manusia mempunyai potensi yang berbeda. Potensi manusia
mempunyai beberapa hal, yaitu : Homo Rasional ( manusia sebagai pemikir),
Manusia harus menggunakan akalnya seoptimal mungkin, sehingga dapat
menghasilkan karya-karya yang dapat diambil manfaat oleh umat muslim yang lain.
Disamping itu manusia sebagai Homo Religius ( manusia sebagai makhluk
beragama), pendidikan Islam harus memotivasi umatnya untuk selalu memperkuat
imannya.
5. Berorientasi pada "Hablum
Minallah Wa Hablum Minannas"
2.5.
Macam-macam metode pendidikan Islam menurut pakar pendidikan dan menurut sumber
yang terdapat dalam al Qur’an dan Al hadits.
A.
Metode Pendidikan Menurut Pakar
Pendidikan Islam
Para ahli
didik Islam telah merumuskan berbagai metode pendidikan Islam diantaranya:
1. Al-Ghazali
Seyogyanya
agama diberikan kepada anak sejak usia anak, sewaktu ia menerimanya dengan
hafalan di luar kepala. Ketika ia menginjak dewasa sedikit demi sedikit makna
agama akan tersingkap baginya. Jadi, prosesnya dimulai dengan hafalan
diteruskan dengan pemahaman. Demikianlah keimanan tumbuh pada anak tanpa dalil
terlebih dahulu.
2. Abdullah Nashih Ulwan
Dalam pendidikan
di rumah tangga menguraikan 4 macam metode :
a. Menyuruh
anak-anak semenjak awal membaca lailaha illallah
b. Memperkenalkan
sejak awal tentang pemikiran hukum halal dan haram
c. Menyuruh
anak beribadah semenjak umur 7 tahun
d. Mendidik anak cinta kepada Rasul dan ahlul
baitnya serta cinta dan gemar membaca al-Qur’an
3. Abdul Rahman
Al-Nahlawi
Al Nahlawi
mengemukakannya pula metode Qur’an dan hadits yang dapat menyentuh perasaan
yaitu :
a. Metode hiwar
(percakapan)
b. Mendidik
dengan kisah-kisah qur’ani dan nabawi
c. Mendidik
dengan antsal qur’ani dan nabawi
d. Mendidik
dengan memberi teladan (ushwatun hasanah)
e. Mendidik
dengan pembiasaan diri dan pengalaman
f. Mendidik
dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mauziah (peringatan)
g. Mendidik
dengan membuat senang (targhib) dan memberi takut (tarhib)
4. Abdurrahman
Saleh Abdllah
Mengemukakan
beberapa metode pendidikan dan peranannya yaitu :
a. Metode
cerita dan ceramah
Tujuannya
adalah untuk memberi dorongan psikologis kepada peserta didik.
b.
Metode diskusi, tanya jawab atau
dialog Tujuannya metode ini akan membawa kepada penarikan deduksi. Dalam
pendidikan, deduksi merupakan suatu metode pemikiran logis yang sangat bermanfaat.
Formulasi dari suatu prinsip umum diluar fakta ternyata lebih berguna sebab
peserta didik akan dapat membandingkan dan menyusun konsep-konsep.
c.
Metode perumpamaan
Tujuannya
dapat memperjelas tentang konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit
kepada peserta didik.
d. Metode
hukuman
Tujuannya
agar peserta didik dapat memahaminya sebagai tanda penerimaan kepribadiannya
yang membuat merasa aman. Sementara hukuman yang berkaitan dengan hal-hal yang
tidak disukainya akan dapat menguatkan rasa aman tersebut.
Dari kutipan
di atas, kita dapat melihat bahwa metode mengajar yang dikemukakan oleh para
ahli di atas dilaksanakan sejak dini, bertahap, berkesinambungan dan tuntas,
serta dengan cara bijaksana, penuh kasih saying, teladan yang baik, yang sesuai
dengan perkembangan anak yang dapat membangkitkan minat dan dengan cara yang
praktis.
B.
Cara Mengaplikasikan Metode Pendidikan Islam dalam Proses Pendidikan
Dalam
mengaplikasikan beberapa metode pendidikan Islam dalam suatu proses pendidikan
Hadari Nawari menawarkan beberapa cara, yaitu:
a.
Melalui Keteladanan
Rasulullah
saw adalah panutan terbaik bagi umatnya, pada diri beliau senantiasa ditemukan
tauladan yang baik serta kepribadian mulia. Sifat-sifat yang ada pada beliau
adalah shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Pribadi seperti yang diteladankan
Rasulullah saw itulah seyogyanya dimiliki dan ditampilkan oleh setiap pendidik
karena Rasulullah saw adalah manusia pilihan yang dimuliakan Allah SWt.
Dalam proses
pendidikan brearti setiap pendidik harus berusaha menjadi teladan peserta
didiknya. Teladan dalam semua kebaikan dan bukan sebaliknya. Dengan keteladanan
itu dimaksudkan peserta didik senantiasa akan mencontohkan segala sesuatu yang
baik-baik dalam perkataan maupun perbuatan.
b.
Melalui kebiasaan
Fakor ini
perlu diterapkan pada peserta didik sejak dini. Contoh sederhana misalnya
membiasakan mengucapkan salam pada waktu masuk dan keluar rumah, membaca
basmalah setiap memulai suatu pekerjaan dan mengucapkan hamdalah setelah
menyelesaikan pekerjaan.
Faktor
pembiasaan ini hendaklah dilakukan secara kontinu dalam arti dilatih dengan
tidak jemu-jemunya dan faktor ini pun harus dilakukan dengan menghilangkan
kebiasaan buruk.
c.
Melalui cerita dan nasihat
Misalnya
tentang cara menasehati anak yang terdapat di surat al-Luqman ayat 13 s.d 19,
surat Al-Kahfi ayat 70-82 tentang pertemuan antara nabi Musa dan nabi Khidir
yang menghasilkan tentang adab seorang murid, adab seorang guru, tentang materi
pelajaran dan masih banyak lagi.
Dengan
melalui metode ini yang mengandung nasihat, pelajaran dan petunjuk yang sungguh
sangat efektif untuk menciptakan suasana interaksi pendidikan. Cerita-cerita
dan nasehat itu akan sangat besar pengaturnya pada perkembangan psikologis
peserta didik bila disampaikan secara baik-baik dan sesuai situasi dan kondisi.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Pendidikan Islam merupakan usaha dan kegiatan yang
dilaksanakan dalamrangka menyampaikan sebuah agama, dengan berdakwah,
menyampaikan ajaran,memberi contoh, melatih keterampilan dan berbuat,
menciptakan kepribadianMuslim.Dalam rangka membentuk itu semua, untuk
mengajukan pendidikan Islamyang ada, misalnya dalam perkembangan kemajauan
intelektual pendidikan. Metode dan pendekatan yang di jalankan dalam pendidikan
islammerupakan suatu cara alat untuk lebih meningkatkan tarap kemampuan
dankeintelektualan bagi peserta didik.Dalam hal ini semua, metode dan
pendekatan dalam pendidikan Islamyaitu Usaha, jalan untuk meningkatkan Serius
dalam diri Muslim itu sendiri. Dankemajuan akhlak yang ada bagi peserta didik.
1.
Pendidikan Islam layaknya
pendidikan-pendidikan yang lain, memerlukan pendekatan dan metode yang tepat.
Pengertian Metode secara etimologi, berasal dari dua
perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan
hodos berarti “jalan” atau “cara”.
Pendekatan merupakan terjemahan dari
kata “approach” dalam bahasa Inggris diartikan dengan come near (menghampiri)
go to (jalan ke) dan way path dengan (arti jalan) dalam pengertian ini dapat
dikatakan bahwa approach adalah cara menghampiri atau mendatangi sesuatu.
2.
Dasar-dasar umum metode pendidikan
Islam
a.
Dasar agama
b.
Dasar biologis
c.
Dasar psikologis
d.
Dasar sosiologis
3.
Prinsip-prinsip metode pendidikan
Islam
a.
Prinsip mempermudah
b.
Prinsip berkesinambungan
c.
Prinsip fleksibel dan dinamis
4.
Metode pendidikan menurut para pakar
pendidikan Islam
a.
Al- Ghazali
b.
Abdullah Nashih Ulwan
c.
Abdurrahman Al Nahlawi
d.
Abdurrohman Saleh Abdullah
5.
Cara mengaplikasikan metode
pendidikan Islam dalam proses pendidikan
a.
Melalui keteladanan
b.
Melalui kebiasaan
c.
Melalui cerita dan nasehat
3.2.Saran
Dari makalah yang kami buat semoga
akan menjadikan manfaat bagi kita semua. Namun, penulis menyadari dari
pembuatan makalah ini banyak sekali kesalahan baik dari tulisan maupun
kata-katanya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun.
REFERENSI
Arifin, H.M.
1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Ramayulis,
H. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.
Langganan:
Postingan (Atom)