Selasa, 22 April 2014

Curriculum 2013


2013 English Curriculum

1.      Scientific Approach
Pada setiap aplikasi kurikulum mempunyai aplikasi pendekatan pembelajaran berbeda-beda, demikian pada kurikulum sekarang ini.  Scientific approach (pendekatan ilmiah) adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada aplikasi pembelajaran kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dari pendekatan pembelajaran kurikulum sebelumnya. pada setiap langkah inti proses pembelajaran, guru akan melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah. 
    Pendekatan ilmiah ini mempunyai kriteria sebagai berikut: pertama, materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata; ke dua, penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis; ke tiga, mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran; ke empat, mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran; ke lima, mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran; ke enam, berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan; ke tujuh, tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
   Langkah pembelajaran pada scientific approach menggamit beberapa ranah pencapaian hasil belajar yang tertuang pada kegiatan pembelajaran.  Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
2.      Discovery Learning
Discovery Learning – Model Pembelajaran Yang Menekankan Pada Penemuan Konsep Yang Sebelumnya Tidak Diketahui
Discovery Learning atau model pembelajaran penemuan adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Sebagai strategi belajar, discovery learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri  dan problem solving. Sehingga tidak ada perbedaan yang prinsip pada ketiga istilah ini.
Dalam mengaplikasikan metode discovery learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin mengubah kegiatan belajar mengajar yang berorientasi (berpusat) pada guru (teacher oriented) menjadi kegiatan belajar mengajar yang berorientasi (berpusat) pada siswa (student oriented). Guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
Keuntungan penggunaan model pembelajaran penemuan (discovery learning), antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
  2. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
  3. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
  4. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
  5. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
  6. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
  7. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan guru pun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
  8. Membantu siswa menghilangkan keragu-raguan karena mengarah pada  kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
  9. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
  10. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar  yang baru.
  11. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
  12. Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
  13. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
  14. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia  seutuhnya.
  15. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
  16. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
  17. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

Rabu, 16 April 2014

TINJAUAN HISTORIS INTEGRASI ILMU AGAMA & ILMU UMUM


Historis, Ilmu Agama dan Umum saling bersinergi sehingga akan terjadi tahap kompak/bersinergi -> sejahtera -> lestari
Integrasi ilmu agama dan umum hakikatnya adalah usaha menggabungkan atau menyatupadukan ontologi,epistemologi dan aksiologi ilmu-ilmu pada kedua bidang tersebut.Itegrasi kedua ilmu tersebut merupakan sebuah keniscayaan tidak hanya untuk kebaikan umat islam semata,tetapi bagi peradaban umat manusia seluruhnya.Karena dengan integrasi,ilmu akan jelas arahnya,yakni mempunyai ruh yang jelas untuk selalu mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebajikan jagat raya,bukan malah menjadi alat dehumanisasi,eksploitasi,dan destruksi alam.Nilai-nilai itu tidak bisa tercapai bila dikotomi ilmu masih ada seperti yang terjadi saat ini.
Integrasi ilmu adalah keharusan bagi umat islam, oleh karenanya tanggung jawab ini bukan hanya kewajiban pemerintah semata dan Perguruan Tinggi Agama Islam, tapi juga kalangan Perguruan Tinggi Umum dan seluruh umat islam yang menginginkan kemajuan islam dan peradaban manusia yang lebih maju dari humanis.
Bagaimana Tinjauan historis tentang integrasi ilmu agama dan ilmu umum?
A.     Masa khalifah Ar-Rasyidin dan Umayah
Dalam pandangan islam, ilmu merupakan salah satu perantara untuk memantapkan dan menguatkan iman. Iman hanya akan bertambah dan menguat jika disertai dengan ilmu pengetahuan. Albert Einstein mengatakan bahwa “ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.
Secara historis, pertumbuhan agama islam (fiqh, hadits, tafsir) sesungguhnya telah berkembang sejak masa khulafa ar rasyidin dan diawal pemerintahan Bani umayah. Hal ini bisa di lihat dari adanya tingkat pendidikan, materi pelajaran yang berbeda-beda di setiap jenjang pendidikan serta para tokoh yang lahir pada saat itu. Menurut Mahmud Yunus menyebutkan bahwa: “paa masa khalifah ar-rasyidin dan umayah sebenarnya telah ada tingkat pengajaran, hampir sama masa sekarang.
Baik pada tingkat awal, menengah, maupun tingkat tinggi, pemberian materi pelajaran masih terbatas pada materi pelajaran alqur’an, tafsir, fiqh, tarikh tasyri’ dan hadits.
B.     Masa Bani Abbasiyah
Masa bani abbasiyah dikenal sebagai masa perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa ini disamping telah berkembang ilmu-ilmu agama islam, juga banyak lahir ilmu-ilmu umum akibat adanya persinggungan kebudayaan antara islam dan negara-negara lain.
Dengan demikian, ilmu agama islam sesungguhnya telah tumbuh dan berkembang sejak rasulullah saw. Masih hidup, tetapi berkembang pesat pada pertengahan masa bani umayyah hingga masa bani abbasiyah.
Berbeda dengan ilmu agama islam yang tumbuh sejak awal perkembangan islam, ilmu pengetahuan umum mulaiberkembang di Dunia islam sejak masa Dinasti Umayyah dan mencapai puncak kejayaan pada masa Dinasti Abbasiyah. Ada dua faktor yang sangat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan saat itu:
§  Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
§   Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase;pertama pada fase khalifah al-masur hingga harun al-rasyid, terutama dalam bidang astronomi dan mantiq.  
Kedua, berlangsung mulai masa khalifah al-ma’mun hingga tahun 300 H. terutama dalam bidang filsafat dan kedokteran. Ketiga, berlangsung setelah tahun 300 H. bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin luas.
Dengan memperhatikan beberapa faktor yang menjadi sebab lahirnya pembaharuan pendidikan islam, maka pada garis besarnya telah terjadi dua pemikiran pembaharuan pendidikan islam, kedua pola tersebut adalah:
1)      Pola pembaharuan pendidikan islam yang berorientasi pada pola pendidikan modern di Barat, yang kemudian dikenal dngan gerakan modernis. Kelompok ini berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kesejahteraan hidup yang di akui oleh Barat adalah dengan jalan mendirikan sekolah-sekolah ala barat.
2)      pembaharuan pendidikan islam yang berorientasi pada tujuan pemurnian kembali ajaran islam. Bagi kelompok ini kemunduran umat islam lebih disebabkan oleh ketidaktaatan kaum muslimin dalam menjalankan ajaran islam menurut semestinya. Pola ini berpandangan bahwa sesungguhnya islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan peradaban serta ilmu pengetahuan modern, dalam hal ini islam telah membuktikannya pada masa kejayaan di masa silam.
Dengan pendekatan historis akan sampai pada catatan penting, bahwa dalam sejarah umat islam-lah yang mempelopori reintegrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Ilmu pengetahuan Yunani, India, Cina, Persia, Romawi dsb. Yang di jumpai umat islam di abad klasik telah dikembangkan dan diislamkan sehingga ilmu-ilmu tersebut membawa kemajuan bagi peradaban umat islam.
Landasan Historis Integrasi-Interkoneksi
n  Perkembangan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan didominasi oleh ilmu-ilmu agama.
n  Ilmu-ilmu umum termasuk ilmu fisika kurang berkembang karena tekanan dari ilmu-ilmu agama.
n  Pada masa ini hubungan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum tidak harmonis.
n  Pada abad modern, tekanan dari ilmu-ilmu agama mulai berkurang bahkan hampir tidak ada.
n  Berkurangnya/hilangnya tekanan ilmu-ilmu agama, menyebabkan berkembangnya ilmu-ilmu umum secara pesat.
n  Tidak adanya sentuhan agama pada ilmu-ilmu umum, mengakibatkan ilmu-ilmu umum berkembang dengan mengabaikan norma-norma agama dan etika kemanusiaan.
n  Pada abad modern, tekanan dari ilmu-ilmu agama mulai berkurang bahkan hampir tidak ada.
n  Berkurangnya/hilangnya tekanan ilmu-ilmu agama, menyebabkan berkembangnya ilmu-ilmu umum secara pesat.
n  Tidak adanya sentuhan agama pada ilmu-ilmu umum, mengakibatkan ilmu-ilmu umum berkembang dengan mengabaikan norma-norma agama dan etika kemanusiaan.
Belajar dari perkembangan keilmuan di atas, pengembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum harus berjalan beriringan, tidak boleh satu disiplin ilmu mendominasi disiplin ilmu yang lain. Dengan memadukan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, tujuan akhir dari ilmu pengetahuan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia dan menjaga kelestarian alam, dapat tercapai.





Selasa, 15 April 2014

curriculum 2013


2013 English Curriculum

1.      Scientific Approach
Pada setiap aplikasi kurikulum mempunyai aplikasi pendekatan pembelajaran berbeda-beda, demikian pada kurikulum sekarang ini.  Scientific approach (pendekatan ilmiah) adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada aplikasi pembelajaran kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dari pendekatan pembelajaran kurikulum sebelumnya. pada setiap langkah inti proses pembelajaran, guru akan melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah. 
    Pendekatan ilmiah ini mempunyai kriteria sebagai berikut: pertama, materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata; ke dua, penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis; ke tiga, mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran; ke empat, mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran; ke lima, mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran; ke enam, berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan; ke tujuh, tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
   Langkah pembelajaran pada scientific approach menggamit beberapa ranah pencapaian hasil belajar yang tertuang pada kegiatan pembelajaran.  Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
2.      Discovery Learning
Discovery Learning – Model Pembelajaran Yang Menekankan Pada Penemuan Konsep Yang Sebelumnya Tidak Diketahui
Discovery Learning atau model pembelajaran penemuan adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Sebagai strategi belajar, discovery learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri  dan problem solving. Sehingga tidak ada perbedaan yang prinsip pada ketiga istilah ini.
Dalam mengaplikasikan metode discovery learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin mengubah kegiatan belajar mengajar yang berorientasi (berpusat) pada guru (teacher oriented) menjadi kegiatan belajar mengajar yang berorientasi (berpusat) pada siswa (student oriented). Guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
Keuntungan penggunaan model pembelajaran penemuan (discovery learning), antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
  2. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
  3. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
  4. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
  5. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
  6. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
  7. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan guru pun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
  8. Membantu siswa menghilangkan keragu-raguan karena mengarah pada  kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
  9. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
  10. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar  yang baru.
  11. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
  12. Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
  13. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
  14. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia  seutuhnya.
  15. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
  16. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
  17. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.