Historis,
Ilmu Agama dan Umum saling bersinergi sehingga akan terjadi tahap
kompak/bersinergi -> sejahtera -> lestari
Integrasi
ilmu
agama
dan umum hakikatnya adalah usaha menggabungkan atau menyatupadukan
ontologi,epistemologi dan aksiologi ilmu-ilmu pada kedua bidang
tersebut.Itegrasi kedua ilmu tersebut merupakan sebuah keniscayaan tidak hanya
untuk kebaikan umat islam semata,tetapi bagi peradaban umat manusia
seluruhnya.Karena dengan integrasi,ilmu akan jelas arahnya,yakni mempunyai ruh
yang jelas untuk selalu mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebajikan
jagat raya,bukan malah menjadi alat dehumanisasi,eksploitasi,dan destruksi
alam.Nilai-nilai itu tidak bisa tercapai bila dikotomi ilmu masih ada seperti
yang terjadi saat ini.
Integrasi
ilmu adalah keharusan bagi umat islam, oleh karenanya
tanggung jawab ini bukan hanya kewajiban pemerintah semata dan Perguruan Tinggi
Agama Islam, tapi juga kalangan Perguruan Tinggi Umum dan seluruh umat islam
yang menginginkan kemajuan islam dan peradaban manusia yang lebih maju dari
humanis.
Bagaimana Tinjauan historis tentang integrasi ilmu agama dan
ilmu umum?
A.
Masa khalifah Ar-Rasyidin dan Umayah
Dalam pandangan islam, ilmu
merupakan salah satu perantara untuk memantapkan dan menguatkan iman. Iman
hanya akan bertambah dan menguat jika disertai dengan ilmu pengetahuan. Albert
Einstein mengatakan bahwa “ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah
lumpuh.
Secara historis, pertumbuhan agama
islam (fiqh, hadits, tafsir) sesungguhnya telah berkembang sejak masa khulafa
ar rasyidin dan diawal pemerintahan Bani umayah. Hal ini bisa di lihat dari
adanya tingkat pendidikan, materi pelajaran yang berbeda-beda di setiap jenjang
pendidikan serta para tokoh yang lahir pada saat itu. Menurut Mahmud Yunus
menyebutkan bahwa: “paa masa khalifah ar-rasyidin dan umayah sebenarnya telah
ada tingkat pengajaran, hampir sama masa sekarang.
Baik pada tingkat awal, menengah,
maupun tingkat tinggi, pemberian materi pelajaran masih terbatas pada materi
pelajaran alqur’an, tafsir, fiqh, tarikh tasyri’ dan hadits.
B.
Masa Bani Abbasiyah
Masa bani abbasiyah dikenal sebagai
masa perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa ini disamping telah berkembang
ilmu-ilmu agama islam, juga banyak lahir ilmu-ilmu umum akibat adanya
persinggungan kebudayaan antara islam dan negara-negara lain.
Dengan demikian, ilmu agama islam
sesungguhnya telah tumbuh dan berkembang sejak rasulullah saw. Masih hidup,
tetapi berkembang pesat pada pertengahan masa bani umayyah hingga masa bani
abbasiyah.
Berbeda dengan ilmu agama islam yang
tumbuh sejak awal perkembangan islam, ilmu pengetahuan umum mulaiberkembang di
Dunia islam sejak masa Dinasti Umayyah dan mencapai puncak kejayaan pada masa
Dinasti Abbasiyah. Ada dua faktor yang sangat berperan dalam pengembangan ilmu
pengetahuan saat itu:
§ Terjadinya asimilasi antara bangsa
Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu mengalami perkembangan dalam
bidang ilmu pengetahuan.
§ Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga
fase;pertama pada fase khalifah al-masur hingga harun al-rasyid, terutama dalam
bidang astronomi dan mantiq.
Kedua, berlangsung mulai masa
khalifah al-ma’mun hingga tahun 300 H. terutama dalam bidang filsafat dan
kedokteran. Ketiga, berlangsung setelah tahun 300 H. bidang-bidang ilmu yang
diterjemahkan semakin luas.
Dengan memperhatikan beberapa faktor
yang menjadi sebab lahirnya pembaharuan pendidikan islam, maka pada garis
besarnya telah terjadi dua pemikiran pembaharuan pendidikan islam, kedua pola
tersebut adalah:
1) Pola pembaharuan pendidikan islam
yang berorientasi pada pola pendidikan modern di Barat, yang kemudian dikenal
dngan gerakan modernis. Kelompok ini berpandangan bahwa sumber kekuatan
dan kesejahteraan hidup yang di akui oleh Barat adalah dengan jalan mendirikan
sekolah-sekolah ala barat.
2) pembaharuan pendidikan islam yang
berorientasi pada tujuan pemurnian kembali ajaran islam. Bagi kelompok ini
kemunduran umat islam lebih disebabkan oleh ketidaktaatan kaum muslimin dalam
menjalankan ajaran islam menurut semestinya. Pola ini berpandangan bahwa
sesungguhnya islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan
peradaban serta ilmu pengetahuan modern, dalam hal ini islam telah
membuktikannya pada masa kejayaan di masa silam.
Dengan pendekatan historis akan
sampai pada catatan penting, bahwa dalam sejarah umat islam-lah yang
mempelopori reintegrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Ilmu pengetahuan
Yunani, India, Cina, Persia, Romawi dsb. Yang di jumpai umat islam di abad klasik
telah dikembangkan dan diislamkan sehingga ilmu-ilmu tersebut membawa kemajuan
bagi peradaban umat islam.
Landasan
Historis Integrasi-Interkoneksi
n Perkembangan
ilmu pengetahuan pada abad pertengahan didominasi oleh ilmu-ilmu agama.
n Ilmu-ilmu
umum termasuk ilmu fisika kurang berkembang karena tekanan dari ilmu-ilmu
agama.
n Pada
masa ini hubungan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum tidak harmonis.
n Pada
abad modern, tekanan dari ilmu-ilmu agama mulai berkurang bahkan hampir tidak
ada.
n Berkurangnya/hilangnya
tekanan ilmu-ilmu agama, menyebabkan berkembangnya ilmu-ilmu umum secara pesat.
n Tidak
adanya sentuhan agama pada ilmu-ilmu umum, mengakibatkan ilmu-ilmu umum
berkembang dengan mengabaikan norma-norma agama dan etika kemanusiaan.
n Pada
abad modern, tekanan dari ilmu-ilmu agama mulai berkurang bahkan hampir tidak
ada.
n Berkurangnya/hilangnya
tekanan ilmu-ilmu agama, menyebabkan berkembangnya ilmu-ilmu umum secara pesat.
n Tidak
adanya sentuhan agama pada ilmu-ilmu umum, mengakibatkan ilmu-ilmu umum
berkembang dengan mengabaikan norma-norma agama dan etika kemanusiaan.
Belajar
dari perkembangan keilmuan di atas, pengembangan ilmu pengetahuan, baik
ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum harus berjalan beriringan, tidak boleh
satu disiplin ilmu mendominasi disiplin ilmu yang lain. Dengan memadukan antara
ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, tujuan akhir dari ilmu pengetahuan yaitu
untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia dan menjaga kelestarian alam,
dapat tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar