Senin, 26 Mei 2014

MAKALAH Metode&Pendekatan Pendidikan Agama Islam



KATA PENGANTAR



Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan kasihNya, memberikan kemampuan dan kemudahan bagi penulis dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai.

Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT, Makalah tentang “Metode dan pendekatan dalam pendidikan Islam” ini dapat hadir di hadapan para pembaca yang budiman. Secara khusus kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberi masukan yang sangat berharga baik dalam tahap rancangan maupun hasilnya nanti.

Terima kasih yang mendalam juga kami ucapkan kepada rekan-rekan yang telah membantu kelompok kami dalam menyelesaikan makalah ini.

            Akhirnya tegur sapa, kritik dan saran tetap penulis harapkan dari semua pihak agar yang slah dapat diperbaiki, yang menyimpang dapat diluruskan dan yang kurang dapat disempurnakan. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.



Penulis








DAFTAR ISI



KATAPENGANTAR……………………………………………………………….

DAFTAR ISI …………………………………………………………………..…....

BAB I     PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang …..………………………..………….…………………………

1.2  Rumusan Masalah ……………………………………………………………….

1.3  Tujuan ………….……………………………………………..…………………

BAB II    PEMBAHASAN    

2.1  Pengertian dari metode dan pendekatan………………………………………

2.2  Nilai-nilai pendidikan Islam dalam Al Qur’an dan Al Hadits…………………...

2.3   Dasar-dasar metode pendidikan Islam …………………………………………

2.4  Prinsip-prinsip metode pendidikan Islam ……………………………………….

2.5  Macam-macam metode pendidikan Islam menurut pakar pendidikan dan menurut sumber yang terdapat dalam al Qur’an dan Al hadits …………………………

BAB III   KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan…………………………………….…………………………….....

3.2. Saran.…………….………………………………… ………………………….

REFERENSI ………………………………………………………………………






BAB I

PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang

Islam merupakan agama yang terakhir sebagai penutup semua agama yang telah ada, islam merupakan agama rahmatal lil a’lamin untuk semua umat.Islam itu dibawakan oleh nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu dari Allah. Untuk mengetahui islam lebih mendalam mak muncullah ilmu yang dinamakan pendidikan Islam akan tetapi pendidikan Islam itu sendiri merupakan bidang kajian yang cukup lama. Ia telah ada bersama dengan adanya agama islam maka dari itu pendidikan Islam menimbulkan berbagai permasalahn yang umum salah satunya tentang bagaimana pendekatan dan metodologi yang digunakan dalam pendidikan Islam.

Seiring dinamika dan perkembangan zaman, kesempatan untuk mempelajari pendidikan Islam dapat melalui segala hal, berkaitan dengan persoalan tentang mempelajari pendidikan Islam, islam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk mempelajarinya, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu ajaran Allah SWT.

Dalam pelakasaan pendidikan Islam sangat dibutuhkan adanya metode yang tepat, efektif, dan efisien dengan tujuan untuk menghantarkan tercapainya suatu tujuan pendidikan yang telah direncanakan dan dicita-citakan. Materi yang baik dan benar saja tidak akan tercover dengan baik jika tidak diimbangi dengan metode yang baik pula. Oleh karena itu, kebaikan suatu materi yang akan disampaikan dalam ranah pendidikan harus ditopang dengan adanya metode pendidikan.

Metode Pembelajaran merupakan cara atau tekhnik pengkajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guna saat pengkajian bahan pelajaran, baik secara individual maupun kelompok. Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu proses, perbuatan dan cara mendekati peserta didik dan mempermudah pelaksanaan pendidikan Islam itu sendiri. Dalam proses pembelajaran yang berlangsung pasti akan didukung oleh metode dan pendekatan pembelajaran, karena dalam pembelajaran, apabila sudah menggunakan kedua sistem diatas maka komponen-komponen pendidikan akan berjalan dengan baik, khususnya pendidikan Islam baik secara efektif dan efisien.

Dalam pembelajaran metode dan pendekatan tidak bisa dipisahkan karena kedua unsur ini merupakan alat dan cara yang digunakan untuk menunjang kelancaran pendidikan

Seperti yang kita ketahui saat ini, peserta didik seakan jenuh dan putus asa dengan tumpukan tugas dari beberapa mata pelajaran atau mata kuliah yang dijejalkan oleh lembaga pendidikan. Perasaan ini tentu saja tidak muncul begitu saja, namun karena ada sederetan faktor lain yang ikut berperan, seperti keterpurukan moral. Materi yang ada dianggap paket dari langit sehingga tidak  perlu disentuh dengan tangan kreatif dan inovatif dari para pendidik. Materi dan metode seakan “jimat” yang dekeramatkan sehingga tidak pernah diubah dan dikembangkan.

Metode pembelajaran yang dipakai selama ini lebih banyak menggunakan model ceramah tanpa sentuhan kreasi dan motivasi yang membuat peserta didik dapat bangkit untuk melompat mencari potensi dan mengembangkannya. Metode pembelajaran yang monoton ini tentu saja menjadikan peserta didik tertekan dan seakan ingin lari dari kelasnya.

Oleh karena itu, didalam makalah ini akan membahas secara lebih umum mengenai permasalahan metode dan pendekatan dalam pendidikan islam.





1.2. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah penulisan makalah ini, maka penulis akan merumuskan masalah dalam rumusan sebagai berkut:

1.      Apa pengertian dari metode dan pendekatan?

2.      Apakah sajakah nilai-nilai pendidikan Islam dalam Al Qur’an dan Al Hadits?

3.      Apa sajakah dasar-dasar metode pendidikan islam?

4.      Apa sajakah prinsip-prinsip metode pendidikan islam?

5.      Apa sajakah  macam-macam metode pendidikan Islam menurut pakar pendidikan dan menurut sumber yang terdapat dalam al Qur’an dan Al hadits?



1.3.Tujuan

Dilatar belakangi oleh alasan penulisan judul tersebut maka tujuan penulis dari risalah ini adalah :

1.      Untuk mengetahui arti dari metode dan pendekatan.

2.      Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan metode pendidikan islam dalam Al Qur’an dan Al Hadits.

3.      Untuk mengetahui apa saja yang termasuk dasar-dasar metode yang digunakan dalam pendidikan islam.

4.      Untuk mengetahui apa saja yang termasuk prinsip-prinsip metode yang digunakan dalam pendidikan islam.

5.      Untuk mengetahui macam-macam metode pendidikan islam berdasarkan pendapat para pakar pendidikan serta sumber yang terdapat  di dalam Al Qur’an dan Al Hadits.







BAB II

PEMBAHASAN



2.1. Pengertian dari metode dan pendekatan

A.    Pengertian dari metode dan pendekatan

Kata metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode berasal dari dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui dan hodos berrti “jalan” atau “cara”. Dalam Bahasa Arab metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan dalam bahasa Inggris metode disebut method yang berarti cara dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, terlebih jika metode itu sudah disandingkan dengan kata pendidikan atau pengajaran diantaranya:

1.      Winarno Surakhmad mendefinisikan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.

2.      Abu Ahmadi mendefinisikan bahwa metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur

3.      Rama yulis mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian metode mengajar merupaka alat untuk menciptakan proses pembelajaran.

4.       Omar Mohammad mendefinisikan bahwa metode mengajar bermakna segala kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, cirri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai pengertian metode di atas, beberapa hal yang harus ada dalam metode adalah:

1.      Adanya tujuan yang hendak dicapai

2.      Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan

3.      Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung

4.      Adanya perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.

Ada istilah lain yang dalam pendidikan yang mengandung makna berdekatan dengan metode, yaitu pendekatan dan teknik/strategi. Pendekatan merupakan pandangan falsafi terhadap subject matter yang harus diajarkan dapat juga diartikan sebagai pedoman mengajar yang bersifat realistis/konseptual. Sedangkan teknik/strategi adalah siasat atau cara penyajian yang dikuasai pendidik dalam mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas, agar bahan pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik.

B.     Macam-macam Metode dan Pendekatan dalam Pendidikan Islam

1.      Macam-macam metode

Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab AlQuran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Qur’an dan Hadits. Diantara metode- metode tersebut adalah:

a.      Metode Ceramah

Metode ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui      penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. (Q.S. Yunus : 23)

b.      Metode Tanya jawab

Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan.

c.       Metode diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun   berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi menyebut metode ini dengan sebutan hiwar (dialog). Prinsip dasar metode ini terdapat dalam Al Qur’an Surat Assafat.

d.      Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya.

Prinsip dasar metode ini terdapat dalam Al Qur’an yang berbunyi :

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ   قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ   وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ   وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ  وَلاَتَمْنُن تَسْتَكْثِرُ   وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

Artinya :

  1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
  2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!
  3. Dan Tuhanmu agungkanlah!
  4. Dan pakaianmu bersihkanlah,
  5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
  6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
  7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

e.       Metode Demontrasi

Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya. (al-Bukhari, I: 226)

f.       Metode eksperimen

Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu   percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap        murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan. (al-Bukhari,I: 129)

g.      Metode Amsal/perumpamaan

Yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan.

Prinsip metode ini terdapat dalam Al Qur’an

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api  Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Q.S. Albaqarah: 17)

h.      Metode Targhib dan Tarhib

Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. (al-Bukhari,t.t,I: 49)

i.        Metode pengulangan (tikror)

Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan. (As-Sijistani, t.t, II: 716).

C.    Macam-macam pendekatan dalam pendidikan Islam

Menurut Ramayulis pendekatan pandangan falsafi terhadap subject matter yang harus diajarkan dan selanjutnya melahirkan metode mengajar. Menurutnya setidaknya ada enam pendekatan yang dapat digunakan pendidikan Islam  dalam pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu:

1.      Pendekatan pengalaman. Yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individual maupun kelompok. Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.

2.      Pendekatan pembiasaan. Pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja yang kadang kala tanpa dipikirkan. Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajarannya.

3.      Pendekatan emosional. Pendekatan emosional adalah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk.

4.      Pendekatan Rasional, yaitu suatu pendekatan mempergunakan rasio dalam memahami dan menerima kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bahkan dengan akal yang dimilikinya juga manusia juga dapat membenarkan dan membuktikan adanya Allah.

5.      Pendekatan fungsional, yaitu suatu pendekatan dalam rangka usaha menyampaikan materi agama dengan menekankan kepada segi kemanfaatan pada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan tingkat perkembangannya. Ilmu Agama yang dipelajari anak di sekolah bukanlah hanya sekedar melatih otak tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan social.

6.      Pendekatan keteladanan. Pendekatan keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan baik yang berlangsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah, perilaku pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang mencerminkan akhlak terpuji, maupun yang tidak langsungmelalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah ketauladanan.

2.2. Nilai-nilai pendidikan islam dalam Al Qur’an dan Al Hadits

A.  Pengertian Nilai-nilai Pendidikan Islam

Nilai artinya “sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan”. Maksudnya “kualitas yang memang membangkitkan respon penghargaan”. “Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara obyektif di dalam masyarakat”.

Menurut Sidi Gazalba “nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki”.

Spranger menjelaskan adanya enam orientasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh manusia dalam kehidupannya. Enam nilai yang dimaksud adalah “nilai teoretik, nilai ekonomis, nilai estetik, nilai sosial, nilai politik, dan nilai agama”.

Nilai adalah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku. Jadi nilai-nilai pendidikan Islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam yang digunakan sebagai dasar manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu mengabdi pada Allah. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.

B.  Pemerolehan Nilai-nilai Pendidikan Islam

Nilai dapat dipersepsi sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata benda, nilai diwakili oleh sejumlah kata benda abstrak seperti keadilan, kejujuran, kebaikan, dan kebenaran. Sedangkan nilai sebagai kata kerja berarti suatu usaha penyadaran diri yang ditujukan pada pencapaian nilai-nilai yang hendak dimiliki. “Dalam teori nilai, nilai sebagai kata benda banyak dijelaskan dalam klasifikasi dan kategorisasi nilai, sedangkan nilai sebagai kata kerja dijelaskan dalam proses perolehan nilai”.

Pemahaman tentang perolehan nilai perlu dipahami secara kontekstual berdasarkan sudut pandang kajiannya dan subyek yang dikaji. “Ketika perolehan nilai dilihat dari sisi moral individu, maka proses tersebut tidak terpisahkan dari proses kehidupan individu dan kehidupan sosial. Demikian pula, ketika kesadaran nilai dilihat dari moral beragama, maka hal itu melibatkan kekuatan ikhtiar manusia dan kebenaran Ilahiyah”.

“Pertama, nilai ada ketika seseorang mengutamakannya karena kebaikan yang ada padanya. Dengan kata lain, sesuatu itu bernilai karena berguna bagi hal tertentu atau bermanfaat untuk tujuan tertentu. Kedua, nilai ada ketika sesuatu itu baik bukan hanya karena sesuatu itu baik untuk mencapai tujuan tertentu, melainkan karena sesuatu itu sendiri baik. Dengan kata lain, nilai baik sesuatu itu tidak tergantung pada selainnya, tetapi lahir dari karakteristik asli yang ada di dalam dirinya”.

Pandangan tentang kajian nilai-nilai diatas, maka muncullah dua kategori pemerolehan nilai. Ada nilai yang diperoleh atau lahir dikarenakan realitas konkret yang dipahami dengan pikiran, dan ada juga nilai yang diperoleh atas realitas spiritual yaitu kalbu. Kedua nilai ini disebut dengan nilai insaniyah dan nilai ilahiyah. “Nilai insaniyah yaitu nilai hidup yang tumbuh dan berkembang dalam dan dari peradaban manusia, sedangkan nilai ilahiah adalah nilai hidup yang berasal dari ajaran agama”. Maka agama yang dimaksud disini tak lepas kajiannya dengan agama Islam

Ada dua pembagian besar tentang bentuk-bentuk nilai. “Pertama, nilai dipandang sebagai konsep, dalam arti memberi nilai atau timbangan (to value). Kedua, nilai dipandang sebagai proses penetapan hukum atau penilaian (to evaluate)”. Nilai juga apabila dilihat dari aspek-aspeknya, terbagi kepada dua yaitu aspek normatif dan operatif. “Dilihat dari segi normatif, nilai merupakan pertimbangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, haq dan batil, diridai atau dikutuk oleh Allah. Sedangkan dari perspektif operatif, nilai tersebut mengandung lima pengertian kategorial yang menjadi prinsip standarisasi perilaku manusia, yaitu wajib atau fardu, sunah atau mustahab, mubah atau jaiz, makruh atau haram”.

Aspek-aspek pemerolehan nilai tersebut, apabila dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka takkan lepas dari sumber dan landasan Islam itu sendiri, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits (landasan nilai naqli), dikarenakan apa-apa yang terkandung didalam keduanya, lahir dalam karakteristik yang mengandung nilai yang baik. Al-Qur’an diturunkan dari Dzat Yang Maha Baik, dan mengandung nilai-nilai keagamaan yang baik. Sedangkan Al-Hadits merupakan kata-kata, perbuatan, dan penetapan dari utusan-Nya yang sudah pasti pemberi contoh terhadap hal-hal yang bernilai baik itu juga. Selain itu akal dan pikiran (landasan nilai aqli) juga merupakan salah satu cara untuk pemerolehan nilai itu. Karena tujuan berpikir salah satunya yaitu untuk mencari nilai-nilai ilmu yang baik.

Pandangan hidup yang mendasari seluruh kegiatan pendidikan Islam ialah pandangan hidup muslim yang merupakan nilai-nilai luhur yang bersifat universal yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga pendapat para sahabat dan ulama sebagai tambahan. Hal ini senada dengan pendapat Ahmad D. Marimba yang menjelaskan “bahwa yang menjadi landasan atau dasar pendidikan diibaratkan sebagai sebuah bangunan sehingga isi Al-Qur’an dan Al-Hadits menjadi pondasi, karena menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya pendidikan”.

Oleh karena itu, mengingat suatu pendidikan adalah proses pendewasaan anak manusia baik intelektual, emosional maupun spiritual dan akan sangat berpengaruh pada masa depan peserta didik, negara, bangsa dan agama maka harus dilakukan secara terprogram, sistematis, terpadu dan integral. Demikian halnya dengan sumber landasan operasionalnya. Berbicara mengenai pendidikan Islam pasti tidak akan terlepas dari landasan esensial yaitu Al-Qur’an, Al-Hadits dan akal pikiran.

2.3.Dasar-dasar metode pendidikan islam

A.    Pengertian Dasar Pendidikan Islam

Dasar (Arab, asas; Inggris: foundation; Prancis: fondement; Latin: fundamentum) secara bahasa, berarti alas, fundamen, pokok atau pangkal segala sesuatu (pendapat, ajaran, aturan). Dasar mengandung pengertian sebagai berikut:

(1) sumber dan sebab adanya sesuatu. Umpamanya, alam rasional adalah dasar alam inderawi. Arinya, alam rasional merupakan sumber dan sebab adanya alam inderawi.

(2) proposisi paling umum dan makna paling luas yang di jadikan sumber pengetahuan, ajaran, atau hukum. Umpamanya, dasar induksi adalah prinsif yang membolehkan pindah dari hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang umum. Dasar untuk pindah dari ragu kepada yakin adalah kepercayaan kepada Tuhan bahwa dia tidak mungkin menyesatkan hamba-hamba-Nya.

Dasar mesti ada dalam suatu bangunan. Tanpa dasar, bangunan itu tidak akan ada. Pada pohon, dasar adalah akarnya. Tanpa akar, pohon itu mati; dan ketika sudah mati, bukan pohon lagi namanya, melainkan kayu. Maka tak ada akar, pohon pun tak ada. Kalimat La Ilaha Illa Allah (Arab: Tidak ada Tuhan selain Allah) yang merupakan espresi terdalam keimanan orang mungkin di gambarkan oleh Allah SWT.

B. Dasar Metode Pendidikan Islam

Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umummetode pendidikan Islam. Sebab  metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.

1.      Dasar Agamis, maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada Agama. Sementara Agama Islam merujuk pada Al Qur’an dan Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanannya berbagai metode yang digunakan oleh pendidik hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif dan efesien yang dilandasi nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits.

2.      Dasar Biologis, Perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam seorang guru harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.

3.      Dasar Psikologis. Perkembangan dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.

4.      Dasar sosiologis. Saat pembelanjaran berlangsung ada interaksi antara pesrta didik dengan peserta didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal ini maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.

Keempat dasar di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam mencapai tujuan tidak mengunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik.



2.4. Prinsip-prinsip metode pendidikan islam.

Prinsip berarti asas atau kebenaran yang jadi pokok dasar orang berfikir, bertindak dan sebagainya. Menurut Dagobert D. Runes yang dikutip oleh Syamsul Nizar, mengartikan prinsip sebagai kebenaran yang bersifat universal (universal truth) yang menjadi sifat dari sesuatu. Apabila dikaitkan dengan pendidikan, maka prinsip pendidikan dapat dikatakan sebagai kebenaran yang universal sifatnya dan menjadi dasar dalam merumuskan perangkat pendidikan. Prinsip pendidikan diambil dari dasar pendidikan, baik berupa agama atau ideologi negara yang dianut. Prinsip pendidikan Islam juga ditegakan di atas dasar yang sama dan berpangkal dari pandangan Islam secara filosofis terhadap jagad raya, manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan dan akhlak. Pandangan Islam terhadap masalah-masalah tersebut, melahirkan berbagai prinsip dalam pendidikan Islam. Prinsip metode pendidikan islam yaitu:

1.      Prinsip Integral dan Seimbang

Ø  Prinsip Integral

Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Keduanya harus terintegrasi secara harmonis. Dalam ajaran Islam, Allah adalah pencipta alam semesta termasuk manusia. Allah pula yang menurunkan hukum-hukum untuk mengelola dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai alam fisik disebut sunnatullah, sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia yang disebut dinullah yang mencakup akidah dan syari'ah.



Al-Qur’an merupakan ayat yang diturunkan Allah (ayat tanziliyah, qur’aniyah). Selain itu, Allah memerintahkan agar manusia membaca ayat Allah yang berwujud fenomena-fenomena alam (ayat kauniyah, sunatullah). Hal itu berarti bahwa pendidikan Islam harus dilaksanakan secara terpadu (integral).

Ø  Prinsip Seimbang

Pendidikan Islam selalu memperhatikan keseimbangan di antara berbagai aspek yang meliputi keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal, urusan hubungan dengan Allah dan sesama manusia, hak dan kewajiban.



2.      Prinsip Bagian dari Proses Rububiyah

Sebagai khalifah, manusia juga mengemban fungsi rubbubiyah Allah terhadap alam semesta termasuk diri manusia sendiri. Dengan perimbangan tersebut dapat dikatakan bahwa karakter hakiki pendidikan Islam pada intinya terletak pada fungsi rubbubiyah Allah secara praktis dikuasakan atau diwakilkan kepada manusia. Dengan kata lain, pendidikan Islam tidak lain adalah keseluruhan proses dan fungsi rubbubiyah Allah terhadap manusia, sejak dari proses penciptaan samspai dewasa dan sempurna.



3.       Prinsip Membentuk Manusia yang Seutuhnya

Pendidikan Islam dalam hal ini merupakan usaha untuk mengubah kesempurnaan potensi yang dimiliki oleh peserta didik menjadi kesempurnaan aktual, melalui setiap tahapan hidupnya. Dengan demikian fungsi pendidikan Islam adalah menjaga keutuhan unsur-unsur individual peserta didik dan mengoptimalkan potensinya dalam garis keridhaan Allah. Prinsip ini harus direalisasikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik harus mengembangkan baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual secara simultan.



4.       Prinsip Selalu Berkaitan dengan Agama

Pendidikan Islam bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu sebagai materi, atau keterampilan sebagai kegiatan jasmani semata, melainkan selalu mengaitkan semuanya itu dengan kerangka praktek (amaliyah) yang bermuatan nilai dan moral. Jadi, pengajaran agama dalam Islam tidak selalu dalam pengertian (ilmu agama) formal, tetapi dalam pengertian esensinya yang bisa saja berada dalam ilmu-ilmu lain yang sering dikategorikan secara tidak proporsional sebagai ilmu sekuler.

5.      Prinsip Terbuka

Pendidikan Islam pada dasarnya bersifat terbuka, demokratis, dan universal. Menurut Jalaludin yang dikutip oleh Bukhari Umar menjelaskan bahwa keterbukaan pendidikan Islam ditandai dengan kelenturan untuk mengadopsi unsur-unsur positif dari luar, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakatnya, dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang original (shahih), yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.



6.      Menjaga Perbedaan Individual

Perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia melahirkan perbedaan tingkah laku karena setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaannya masing-masing. Menurut Asy-Syaibani yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa pendidikan Islam sepanjang sejarahnya telah memelihara perbedaan individual yang dimilki oleh peserta didik.



7.      Prinsip Pendidikan Berlangsung Sepanjang Hayat

Islam tidak mengenal batas akhir dalam menempuh pendidikan. Hal tersebut mengingat tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan Islam adalah terbentuknya "akhlak al-karimah". Pembentukan itu membutuhkan waktu yang panjang, yaitu sepanjang hayat manusia.

Selain itu dalam buku Ilmu Pendidikan Islam yang ditulis Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa yang menjadi prinsip-prinsip pendidikan Islam itu diantaranya adalah :

1)      Prinsip pendidikan Islam merupakan implikasi dari karakteristik manusia.

2)      Prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan integral.

3)      Prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan yang seimbang.

4)      Prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan universal.

5)      Prinsip pendidikan Islam adalah dinamis.



Tidak hanya itu, prinsip pendidikan Islam paling tidak mengacu kepada lima Aspek :

1.      Selalu mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadits.

2.      Selalu mengarah kepada dunia dan akhirat.

3.      Bersifat teoritis dan praktis Pendidikan Islam tidak cukup hanya menyampaikan teori, karena tujuan materi itu tidak lain untuk dilaksanakan guna mencapai amal yang tinggi disisi Allah dan "Uswatun Hasanah" harus menjadi pedoman yang utama di dalam hidupnya.

4.      Sesuai dengan potensi yang dimiliki manusia Setiap manusia mempunyai potensi yang berbeda. Potensi manusia mempunyai beberapa hal, yaitu : Homo Rasional ( manusia sebagai pemikir), Manusia harus menggunakan akalnya seoptimal mungkin, sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang dapat diambil manfaat oleh umat muslim yang lain. Disamping itu manusia sebagai Homo Religius ( manusia sebagai makhluk beragama), pendidikan Islam harus memotivasi umatnya untuk selalu memperkuat imannya.

5.      Berorientasi pada "Hablum Minallah Wa Hablum Minannas"



2.5. Macam-macam metode pendidikan Islam menurut pakar pendidikan dan menurut sumber yang terdapat dalam al Qur’an dan Al hadits.

A.    Metode Pendidikan Menurut Pakar Pendidikan Islam

Para ahli didik Islam telah merumuskan berbagai metode pendidikan Islam diantaranya:

1.      Al-Ghazali

Seyogyanya agama diberikan kepada anak sejak usia anak, sewaktu ia menerimanya dengan hafalan di luar kepala. Ketika ia menginjak dewasa sedikit demi sedikit makna agama akan tersingkap baginya. Jadi, prosesnya dimulai dengan hafalan diteruskan dengan pemahaman. Demikianlah keimanan tumbuh pada anak tanpa dalil terlebih dahulu.



2.       Abdullah Nashih Ulwan

Dalam pendidikan di rumah tangga menguraikan 4 macam metode :

a.       Menyuruh anak-anak semenjak awal membaca lailaha illallah

b.      Memperkenalkan sejak awal tentang pemikiran hukum halal dan haram

c.       Menyuruh anak beribadah semenjak umur 7 tahun

d.       Mendidik anak cinta kepada Rasul dan ahlul baitnya serta cinta dan gemar membaca al-Qur’an



3.      Abdul Rahman Al-Nahlawi

Al Nahlawi mengemukakannya pula metode Qur’an dan hadits yang dapat menyentuh perasaan yaitu :

a.       Metode hiwar (percakapan)

b.      Mendidik dengan kisah-kisah qur’ani dan nabawi

c.       Mendidik dengan antsal qur’ani dan nabawi

d.      Mendidik dengan memberi teladan (ushwatun hasanah)

e.       Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman

f.       Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mauziah (peringatan)

g.      Mendidik dengan membuat senang (targhib) dan memberi takut (tarhib)



4.      Abdurrahman Saleh Abdllah

Mengemukakan beberapa metode pendidikan dan peranannya yaitu :

a.       Metode cerita dan ceramah

Tujuannya adalah untuk memberi dorongan psikologis kepada peserta didik.  

b.      Metode diskusi, tanya jawab atau dialog Tujuannya metode ini akan membawa kepada penarikan deduksi.  Dalam pendidikan, deduksi merupakan suatu metode pemikiran logis yang sangat bermanfaat. Formulasi dari suatu prinsip umum diluar fakta ternyata lebih berguna sebab peserta didik akan dapat membandingkan dan menyusun konsep-konsep.

c.       Metode perumpamaan

Tujuannya dapat memperjelas tentang konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit kepada peserta didik.

d.      Metode hukuman

Tujuannya agar peserta didik dapat memahaminya sebagai tanda penerimaan kepribadiannya yang membuat merasa aman. Sementara hukuman yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak disukainya akan dapat menguatkan rasa aman tersebut.

Dari kutipan di atas, kita dapat melihat bahwa metode mengajar yang dikemukakan oleh para ahli di atas dilaksanakan sejak dini, bertahap, berkesinambungan dan tuntas, serta dengan cara bijaksana, penuh kasih saying, teladan yang baik, yang sesuai dengan perkembangan anak yang dapat membangkitkan minat dan dengan cara yang praktis.

B.      Cara Mengaplikasikan Metode Pendidikan Islam dalam Proses Pendidikan

Dalam mengaplikasikan beberapa metode pendidikan Islam dalam suatu proses pendidikan Hadari Nawari menawarkan beberapa cara, yaitu:

a.       Melalui Keteladanan

Rasulullah saw adalah panutan terbaik bagi umatnya, pada diri beliau senantiasa ditemukan tauladan yang baik serta kepribadian mulia. Sifat-sifat yang ada pada beliau adalah shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Pribadi seperti yang diteladankan Rasulullah saw itulah seyogyanya dimiliki dan ditampilkan oleh setiap pendidik karena Rasulullah saw adalah manusia pilihan yang dimuliakan Allah SWt.

Dalam proses pendidikan brearti setiap pendidik harus berusaha menjadi teladan peserta didiknya. Teladan dalam semua kebaikan dan bukan sebaliknya. Dengan keteladanan itu dimaksudkan peserta didik senantiasa akan mencontohkan segala sesuatu yang baik-baik dalam perkataan maupun perbuatan.



b.       Melalui kebiasaan

Fakor ini perlu diterapkan pada peserta didik sejak dini. Contoh sederhana misalnya membiasakan mengucapkan salam pada waktu masuk dan keluar rumah, membaca basmalah setiap memulai suatu pekerjaan dan mengucapkan hamdalah setelah menyelesaikan pekerjaan.

Faktor pembiasaan ini hendaklah dilakukan secara kontinu dalam arti dilatih dengan tidak jemu-jemunya dan faktor ini pun harus dilakukan dengan menghilangkan kebiasaan buruk.



c.       Melalui cerita dan nasihat

Misalnya tentang cara menasehati anak yang terdapat di surat al-Luqman ayat 13 s.d 19, surat Al-Kahfi ayat 70-82 tentang pertemuan antara nabi Musa dan nabi Khidir yang menghasilkan tentang adab seorang murid, adab seorang guru, tentang materi pelajaran dan masih banyak lagi.

Dengan melalui metode ini yang mengandung nasihat, pelajaran dan petunjuk yang sungguh sangat efektif untuk menciptakan suasana interaksi pendidikan. Cerita-cerita dan nasehat itu akan sangat besar pengaturnya pada perkembangan psikologis peserta didik bila disampaikan secara baik-baik dan sesuai situasi dan kondisi.



























BAB III

PENUTUP



3.1.Kesimpulan

Pendidikan Islam merupakan usaha dan kegiatan yang dilaksanakan dalamrangka menyampaikan sebuah agama, dengan berdakwah, menyampaikan ajaran,memberi contoh, melatih keterampilan dan berbuat, menciptakan kepribadianMuslim.Dalam rangka membentuk itu semua, untuk mengajukan pendidikan Islamyang ada, misalnya dalam perkembangan kemajauan intelektual pendidikan. Metode dan pendekatan yang di jalankan dalam pendidikan islammerupakan suatu cara alat untuk lebih meningkatkan tarap kemampuan dankeintelektualan bagi peserta didik.Dalam hal ini semua, metode dan pendekatan dalam pendidikan Islamyaitu Usaha, jalan untuk meningkatkan Serius dalam diri Muslim itu sendiri. Dankemajuan akhlak yang ada bagi peserta didik.

1.        Pendidikan Islam layaknya pendidikan-pendidikan yang lain, memerlukan pendekatan dan metode yang tepat.

Pengertian Metode secara etimologi, berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”.

Pendekatan merupakan terjemahan dari kata “approach” dalam bahasa Inggris diartikan dengan come near (menghampiri) go to (jalan ke) dan way path dengan (arti jalan) dalam pengertian ini dapat dikatakan bahwa approach adalah cara menghampiri atau mendatangi sesuatu.

2.        Dasar-dasar umum metode pendidikan Islam

a.       Dasar agama

b.      Dasar biologis

c.       Dasar psikologis

d.      Dasar sosiologis



3.        Prinsip-prinsip metode pendidikan Islam

a.       Prinsip mempermudah

b.      Prinsip berkesinambungan

c.       Prinsip fleksibel dan dinamis



4.        Metode pendidikan menurut para pakar pendidikan Islam

a.       Al- Ghazali

b.      Abdullah Nashih Ulwan

c.       Abdurrahman Al Nahlawi

d.      Abdurrohman Saleh Abdullah



5.        Cara mengaplikasikan metode pendidikan Islam dalam proses pendidikan

a.       Melalui keteladanan

b.      Melalui kebiasaan

c.       Melalui cerita dan nasehat



3.2.Saran

            Dari makalah yang kami buat semoga akan menjadikan manfaat bagi kita semua. Namun, penulis menyadari dari pembuatan makalah ini banyak sekali kesalahan baik dari tulisan maupun kata-katanya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.













REFERENSI



Arifin, H.M. 1996. Ilmu Pendidikan  Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Ramayulis, H. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.





1 komentar: